Sunday, December 24th, 2006
ada gurat letih yang harus kuterjemahkan
dalam menelusuri tapak perjalananmu, ibu
serupa seribu sajak yang tak terganti dari air kehidupan
rambutmu adalah gelombang putih di masa yang coklat
sedang tanganmu kini terbingkai urat-urat membiru
di kerut dahimu mimpiku teringin singgah
meski ibu tak pernah bersajak
air matanya yang letih menjadi telaga puisi
malam masih menyisakan kehangatan
seperti ibu yang terjaga
ada satu tanya di sana
"sudah berpulangkah kita pada hangat peluk di dada ibu?"
( Alam Maya, menjelang 22 desember 2006)
